Perumpamaan menarik ini disampaikan oleh dosen saya hari ini di matkul Kepemimpinan :D
Beliau mengatakan bahwa, orang yang sedang marah itu ibarat botol berisi air penuh yang sedang dibalik. Jadi isinya tumpah keluar semua ditarik oleh gravitasi. Air yang tumpah kebawah itu diibaratkan sebagai luapan kemarahan dari orang yang sedang marah itu. Jadi, sikap kita yang seharusnya ketika berhadapan dengan orang yang sedang marah adalah membiarkannya menumpahkan seluruh amarahnya hingga habis tak bersisa dulu, baru kita bisa mengutarakan pendapat, atau kritik kita. Jika ketika dia sedang marah, trus diinterupsi oleh kita, dengan penuh emosi pula itu, maka hal itu sia-sia. Itu ibarat memasukkan sesuatu benda ke dalam botol yang airnya sedang tumpah. Nah, kan sia-sia kan ya. Yang ada hal itu malah mengakibatkan diri kita sendiri kena basahnya. Jadi, jika berhadapan dengan orang yang sedang marah, biarkan saja dulu sampai kemarahannya habis, baru setelah itulah kita bisa menyuarakan isi hati kita atas kemarahannya tadi. Ibaratnya,botol yang tadi isinya udah kosong, jadi kan aga adalagi kemarahan yang bakal ditumpahkannya, sehingga orang yang tadinya marahn pun dapat menerima pendapat kita dengan kepala dingin.
Perumpamaan ini benar adanya jika kita pikirkan baik-baik. Menginterupsi orang yang sedang marah dengan kemarahan ibarat menyiram minyak ke api...duesh :p Memang secara teori mudah mengatakannya, siapa si yang mau dimarahi atau menjadi sasaran meluapkan kemarahan ? . Tetapi ini adalah metode yang bagus untuk membantu meredakan kemarahan seseorang secara tidak langsung. Harus ada 1 pihak yang mengalah dan diam agar kemarahan seseorang bisa reda ibarat botol kosong tadi. Saya pikir juga begitu :D buat apa sih orang marah dilawan? Habis tenaga en waktu sebab apapun yang kita teriakkan akan membal dari telinganya hahaha So, jika sedang berhadapan dengan orang yang marah, biasanya saya sabaar aja en diam, sampa dia selesai marah, baru deh kita keluarkan unek-unek kita :)
No comments:
Post a Comment